Rabu, 31 Agustus 2016

dr Karolin Margret Natasa Layak dan Siap Memimpin Kabupaten Landak

dr Karolin Margret Natasa, Wanita yang Berparas Cantik ini merupakan Putri dari Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis.MH. yang lahir di Mempawah 12 Maret 1979.
Wanita berusia 36 tahun ini memulai karirnya menjadi Politisi dan sukses memperoleh kursi DPR RI periode 2008-2013 melalui Partai PDI Perjuangan. Karir Politik Karolin terus berlanjut hingga masa Jabatannya berakhir.
Dan pada Pemilu Legislatif 9 april 2014 ini Karoline membuat Publik Indonesia kembali Berdecak Kagum karena diusianya yang masih muda, Dia Berhasil Meraih Suara Terbanyak secara Nasional.
Dengan mengalahkan tokoh Hebat seperti Ibas Baskoro & Puan Maharani dengan memperoleh suara terbanyak sebesar 397.481 suara, Karolin sukses meraih suara terbanyak Caleg anggota DPR RI Periode 2014 -2019 melalui PDI Perjuangan
Ia Maju di Daerah Pemilihan Kalimantan Barat yang meliputi Seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Barat. Seperti: Kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak, Landak, Kubu Raya, Ketapang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Kota Pontianak & Singakawang. Dari 560 Caleg yang Lolos menuju kursi DPR RI 2014-2019, Karolin Margret Natasa Terpilih Meraih Suara Terbanyak.
Kemenangan Karolin ini tak bisa Lepas dari Strategi Politik dan Dia Lakukan dilapangan. Masyarakat menilai selama menjadi Anggota DPR RI dapat memperjuangkan pembangunan untuk Kalimantan Barat.
Di Pilkada Landak yang akan dilaksanakan tahun 2017 ini, Karolin diminta oleh masyarakat Kabupaten Landak untuk maju memperebutkan Kursi Bupati Landak. Melalui Perahu PDI Perjuangan dengan Perolehan Kursi 11 Kursi Legislatif di DPRD Kabupaten Landak.
Kemampuan Karolin untuk memimpin Kabupaten Landak, bukan Karena Dia Anak Seorang Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis. MH, tetapi karena Karolin juga Mempunyai Kemampuan Memimpin yang Mengalir dalam Darahnya dan sudah Terbukti

Karolin Margret Natasa, Karolin Margret Natasa, Karolin Natasha Margaret, Karolin Natasha, Karolin Natasya, Karolin Natasa Anggota DPR, Karolin Natasa, Karolin Natasha Margaret, Karolin Natasha Margareth.

Ingin Mengenal LEBIH DEKAT? Klik http://karolin.id

Karolin Margret Natasa Lolos Ke DPR RI

Komisi Pemilihan Umum telah mensahkan rekapitulasi penghitungan suara untuk KPU Provinsi Kalimantan Barat. Dari semua calon legislatif DPR RI di daerah pemilihan Kalimantan Barat, dr. Karolin Margret Natasa memperoleh suara terbanyak 397.481.
Pada Pemilu Legilatif 2014, Karolin Margret Natasa kembali maju sebagai bakal calon anggola legislatif (bacaleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di daerah pemilihan Kalimantan Barat. Ia ditempatkan dinomor urut 2 setelah Dolfie O.F.P.
Dari pantauan wartawan dalam rekapitulasi hasil perolehan suara daerah pemilihan (dapil) provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), surat suara sah 12 partai politik mencapai 2.478.262, dan suara tidak sah 240.534. Sementara total pemilih dari DPT, DPTb, DPK, DPKTb, berjumlah 3.549.448.
Putri sulung Gubernur provinsi  Kalimantan Barat (Kalbar), Drs. Cornelis, M.H., dr. Karolin Margret Natasa adalah calon petahana dari asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan nomor urut dua. Perolehan suara tertinggi berikutnya dalam data rekap itu adalah caleg PDIP nomor urut satu, Dolfie O.F.P. 107.855 suara, disusul politisi Partai Golongan Karya (Golkar) nomor 1 Zulfadhli M.M. Mereka semua calon petahana.
Berikut perolehan suara sah masing-masing partai politik di daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Barat (Kalbar) yakni Partai Nasional Demokrat (NasDem) 168.741 suara, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 117.937 suara, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 102.146 suara, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 817.770 suara, Partai Golongan Karya (Golkar) 348.986 suara, Partai Gerindra 236.281 suara, Partai Demokrat (PD) 196.890 suara, Partai Amanat Nasional (PAN) 196.212 suara, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 136.564 suara, Partai Hanura 86.741 suara, Partai Bulan Bintang (PBB) 30.813 suara, PKPI 139.181 suara.
Seperti dikabarkan sebelumnya, meski proses penghitungan suara pemilihan legislatif belum selesai. Namun, beberapa pihak atau caleg sudah dipastikan akan merasakan empuknya kursi parlemen di DPR RI. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) telah merampungkan perhitungan suara Pemilu legislatif tingkat DPR RI, Jumat (25/4/2014).
Sebanyak 119 calon legislatif (caleg) dari 12 partai politik akan bertarung sengit untuk saling berebut simpatik masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) agar dapat duduk di Senayan selama lima tahun ke depan.
Dilihat dari latar belakangnya beragam. Selain mengusung 10 incumbent dan pendatang baru, tak sedikit caleg dengan kategori pengusaha dan penguasa yang akan bertarung memanaskan perebutan kursi Senayan.
Berdasarkan data olahan Media Center KPU rilisan 7 April 2009, dari situs http://mediacenter.kpu.go.id/, jumlah caleg DPR RI Dapil Kalbar sebanyak 213 orang. Dari jumlah tersebut hanya 10 orang terpilih duduk di Senayan waktu itu.
Dan, di antara mereka adalah para wanita-wanita cantik. Di balik wajah cantik mereka, tersimpan harapan dan suara-suara rakyat Indonesia. Politikus yang memiliki wajah rupawan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga merupakan putri sulung Gubernur provinsi  Kalimantan Barat (Kalbar), Drs. Cornelis, M.H., dr. Karolin Margret Natasa, diperkirakan lolos menjadi wakil rakyat.
Politisi asal Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berdomisili di Jakarta Utara ini, Karolin Margret Natasa, caleg incumbent meraih suara tertinggi di daerah pemilihan Kalimantan Barat.
Dalam pleno rekapitulasi real count yang digelar di Hotel Mercure Pontinak, suara calon legislatif nomor urut 2 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Karolin Margret Natasa tak terbendung.
Rekapitulasi menetapkan caleg PDIP No urut 2 ini memperoleh suara 52,236 dan suara PDIP mencapai 14,422. Keseluruhan suara PDIP dan caleg DPR RI dapil Kalbar mencapai 99,588 untuk tingkat Kabupaten Sanggau.
Tidak tanggung-tanggung suara untuk dirinya pribadi mencapai 397.481. Suara yang diraih Karolin Margret Natasa itu juga melebihi total jumlah masing-masing suara sah partai dan suara calon dari 11 partai lainnya. Jumlah itu juga yang membuat total suara untuk PDIP tembus 817.770 vote. Secara keseluruhan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendapat 817.770 suara atau 33 persen dari 2.478.622 suara sah di Kalimantan Barat.
Dr. Karolin Margret Natasa lahir di Mempawah pada tanggal 12 Maret 1982 menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dr. Karolin Margret Natasa maju di daerah pemilihan Kalimantan Barat yang meliputi seluruh kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Barat: Kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak, Landak, Kubu Raya, Ketapang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Kota Pontianak, dan Singkawang. Putri dari Gubernur Kalimantan Barat periode 2008-2013, Drs. Cornelis, M.H. ini terpilih sebagai anggota DPR RI Komisi IX dari partai PDI Perjuangan yang terpilih daerah pilihan Kalimantan Barat pada tahun 2009 setelah menempati posisi ke 3 setelah Edhi Baskoro dan Puan Maharani. Ia kemudian ditempatkan di Komisi IX, dia menangani masalah di Komisi IX yang membidangi Kependudukan, Kesehatan, serta Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Selain menjadi anggota DPR RI , dia juga menjabat sebagai anggota MPR RI.
Dari daerah pemilihan Kalbar, partai kepala banteng hampir dipastikan mengirimkan tiga wakilnya. “Sangat puas dengan perolehan suara partai, tertinggi di tingkat kabupaten ini. Apalagi tertinggi dari partai lain. Kalau untuk caleg yang paling tertinggi adalah Karolin,” kata ketua Dewan Sanggau dari PDIP, Jumadi.
Anggota Komisi IX DPR RI periode 2009-2014 dari daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Barat (Kalbar), kelahiran 12 Maret 1982 di Mempawah yang juga adalah puteri Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, dr. Karolin Margret Natasa tidak sendiri.
Dr. Karolin Margret Natasa adalah seorang dokter lulusan Universitas Atmajaya Jakarta ini bersama beberapa kader PDIP lainnya dari daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Barat juga berhasil tembus ke Senayan.
Tidak hanya Karolin Margret Natasa, beberapa kader PDIP lainnya dari daerah pemilihan Kalimantan Barat juga lolos ke Senayan, yaitu Lasarus dan Gabriel Michel Jenno.  Selain Karolin Margret Natasa, petahana Lasarus juga lolos. Sementara nama baru yang akan berangkat ke Senayan adalah Gabriel Michael Jeno. Pengusaha ini mampu menggeser calon incumbent di internal partainya, Dolfie OFP. Suara keduanya terpaut cukup banyak, 34.940 suara berbanding 55.121 suara.
Sementara itu, partai-partai yang bakal punya wakil di DPR dari dapil Kalbar adalah Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat (PD), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Masing-masing cuma mengutus satu orang saja. Secara berurutan sesuai partai di atas, nama-nama yang tembus adalah; Syarif Abdullah; Daniel Johan, Zulfadhli, Katherine A. Oendoen, Erma Suryani Ranik, Sukiman, dan Usman Jafar.
Alih-alih memperhatikan persaingan antarpartai, persaingan antarcaleg dalam satu partai malah lebih menarik. Adu banyak suara di internal partai-partai tersebut cukup ketat.
Di Partai Golkar misalnya, Zulfadhli harus mengalahkan sesama petahana Kamaruddin Sjam dan mantan Bupati Ketapang Morkes Effendi. Partai beringin pada periode lalu punya dua wakil, kini kemungkinan hanya punya jatah satu orang saja.
Sementara di PAN, Sukiman mampu mengungguli mantan Bupati Sambas Burhanuddin A. Rasyid. Morkes Effendi dan Burhanuddin A. Rasyid juga kalah saat berpasangan sebagai calon Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar pada 2012 lalu.
Begitu juga dengan kondisi Partai Demokrat (PD). Dua calon petahana, Albert Yaputra dan Lim Sui Khiang kandas harapannya untuk kembali lagi menjadi anggota Dewan yang terhormat. Mereka disisihkan oleh caleg perempuan, Erma Suryani Ranik. Nama terakhir saat ini masih duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Namun, paling seru terjadi di Partai Gerindra. Katherine A. Oendoen yang terpilih, suaranya hanya terpaut tipis dengan koleganya, mantan wali Kota Singkawang, Hasan Karman. Katherine A. Oendoen memperoleh 38.455 suara, sedangkan Hasan Karman punya 37.659 suara. Hal ini membangkitkan ingatan akan kekalahannya dalam pemilihan wali Kota Singkawang tahun 2012 lalu, dimana dia juga kalah sangat tipis dari Awang Ishak.
Sementara Daniel Johan melenggang ke Jakarta hanya dengan 28.608 suara saja.
Kontras dengan Karolin Margret Natasa yang suara pribadinya hampir 400 ribu. Suara Daniel Johan pun jauh lebih kecil dari suara yang diraih H. Alifudin, S.E., M.M., (36.835 vote) dari PKS,  Drs. Kamaruddin Sjam, M.M. (53.066 vote) dan H. Morkes Effendi, S.Pd., M.H. (63.624  vote) dari Partai Golkar yang tidak berhasil duduk di Senayan. Daniel Johan pun berhasil duduk meski suara pribadinya tak sebanyak Hasan Karman dari Partai Gerindra dan suara Dolfie O.F.P dari PDIP (34.940 vote). Sedangkan Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid dari PAN yang memperoleh suara pribadi 58.722 pun belum dapat duduk jika dibandingkan dengan suara Daniel Johan. PKB memiliki total suara yang lumayan dengan 117.936 vote sehingga Daniel Johan yang wakil sekretaris jenderal DPP PKB pun lanjut ke Senayan. Daniel Johan tertolong karena suara Partai.
Pada pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Maria Goreti menjadi pemilik suara terbanyak dan dipastikan lolos. Tiga orang yang akan menemaninya adalah pemilik OSO Group Oesman Sapta Odang, Abdul Rahmi, dan Rubaeti Erlita. Dua incumbent Hairiah dan Ishak Saleh pupus peluang untuk mempepanjang masa kerjanya, walaupun punya suara tak sedikit.

dr Karolin Margret Natasa: Srikandi Politik dari Mempawah

Dokter Karolin Margret Natasa menyabet suara ketiga terbanyak nasional pada Pemilu Legislatif 2009 lalu. Ia meraup sebanyak 202.021 suara dari bilangan pembagi pemilih (BPP) 146.273.


Perolehan suara Karolin Margret Natasa, akrab disapa Karol, di bawah putri mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan putra Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Puan Maharani meraih 242.504 suara dari BPP 188.131, dan Edy Baskoro Yudhoyono meraih 327.097 suara dari BPP 184.799.

Pada usia 27 tahun, Karol pun menjadi anggota DPRI RI. Kini, ia duduk di Komisi IX, dari Fraksi PDIP. Di sela-sela kesibukannya, Karol juga menyempatkan diri terlibat aktif di Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA). Ia menjadi Ketua Bidang IPTEK Presidium Pusat ISKA 2010-2013.

Karir politik

Karol lahir di Mempawah, Kalimantan Barat, 12 Maret 1982. Ia adalah putri sulung dari pasangan Frederika SPd dan Drs Cornelis MH, yang kini menjabat Gubernur Kalimantan Barat.

Lulus SMAN I Pontianak, Karol meninggalkan kampung halamannya, hijrah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia studi di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Bakat politisinya telah tampak tatkala menjadi mahasiswi. Ia pernah menyabet juara dalam lomba debat antarfakultas di Universitas Atma Jaya. Selain itu, Karol juga aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat Presidium Pengembangan Organisasi di PMKRI Cabang Jakarta Pusat 2005-2006.

Karol memulai karir politiknya dengan menjadi juru kampanye Pemilu Bupati Kabupaten Landak pada 2006. Ia berkampanye untuk ayahnya yang waktu itu mencalonkan diri menjadi Bupati Landak. Setahun kemudian, ia aktif lagi mendukung sang ayah bertarung dalam Pemilu Gubernur Kalimantan Barat. Mau tak mau, dengan terjun ke panggung politik, Karol harus berkeliling keluar masuk kampung.

Karol berpendapat, dunia politik tidak selalu hitam putih. Seorang politisi harus memiliki prioritas. Tantangannya, menyelaraskan antara kepentingan masyarakat, partai politik, dan pribadi. Kuncinya, harus mendengarkan moralitas masyarakat.

“Politik adalah panggilan. Sebab, kalau tidak ada panggilan tidak akan bisa menikmati. Dan, kalau tidak bisa menikmati, pasti akan berat sekali,” tutur ibu Jorrel Sandhyka ini.

Karol menambahkan, kerja di bidang politik tidak memiliki job description. Misalkan, tatkala masa reses, diminta berkorban waktu maupun materi demi konstituen. Berhari-hari turun ke daerah pemilihan (dapil), mengunjungi sekaligus mendengarkan aspirasi. “Kalau tidak bisa menikmati, maka tidak akan mampu bertahan. Untuk mau saja sulit, apalagi bertahan, dan apalagi perempuan,” kata istri dokter Adhy Nugroho ini.

Masalah buruh

Karol duduk di Komisi IX DPR RI. Ia mengkritisi tentang persoalan ketenagakerjaan. Misalnya, pengawasan yang baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun integritas masih kurang.

Tentang sistem outsourcing yang selalu dipermasalahkan, Karol berpendapat bahwa dengan persaingan seperti sekarang ini, tidak bisa menolak outsourcing. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sistem ini diimplementasikan sesuai dengan ketentuan hukum. Menjadi sangat ironis tatkala ada dokter outsourcing di rumah sakit. “Karena core bisnisnya di situ. Intinya di pelaksanaan masih berantakan,” tandas Karol.

Karol menambahkan, outsourcing boleh, tetapi dengan syarat harus ada jaminan sosial. Problemnya kini, tidak ada jaminan sosial. Yang ada hanya Jamsostek, sehingga menjadi monopolistik. Asuransi bagi buruh menjadi kurang optimal. Manfaat uang pensiun dan kecelakaan kerja kurang dirasakan buruh. Karol juga menilai bahwa selama ini ada perspektif yang salah, ketika mengurus masalah perburuhan, dianggap membela buruh. “Padahal, ini menyangkut stabilitas ekonomi dan iklim investasi. Kalau tidak ada investasi, yang rugi siapa?” gugatnya.

Menyoal buruh migran, Karol mempertanyakan peran negara, sebagai regulator atau operator. UU No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri juga belum menjawab persoalan. Dengan tegas Karol mengkritik perlakuan-perlakuan tidak manusiawi terhadap TKI. Sebelum berangkat ke luar negeri diperas, setelah pulang di diperas lagi. “Saya pernah baca di Jakarta Post, ada warga negara Malaysia mengucapkan terima kasih banyak kepada TKW asal Indonesia karena sudah membesarkan anak-anaknya. Ironisnya, ketika ia pulang justru disekap dan diperas,” tuturnya dengan nada prihatin.

Solusinya, menurut Karol, pertama-tama negara harus menjadi operator, di samping perlunya mempersiapkan dengan baik dan meningkatkan kualitas TKI. Karol menyatakan mendukung, jika Gereja mau ambil bagian dalam urusan TKI.

Karolin Margret Natasa


Tempat lahir : Mempawah, Kalimantan Barat
Tanggal lahir: 12 Maret 1982
Nama Suami : dr Adhy Nugroho
Nama Anak : Jorrel Sandhyka

Jabatan:
Anggota Komisi IX DPR RI 2009-2014 Fraksi PDI Perjuangan

Pendidikan
• SD Amkur Sambas (1994)
• SMP Gembala Baik Pontianak (1997)
• SMA Negeri I Pontianak (2000)
• S1 Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta (2007)

Organisasi
• Presidium Pengembangan Organisasi PMKRI Cabang Jakarta Pusat (2005-2006)
• Ketua DPD Taruna Merah Putih Provinsi Kalimantan Barat (2008-2013)
• Ketua Pengprov ISSI Kalbar (2009-2013)
• Wakil Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalimantan Barat (2010-2015)
• Presidium Pusat ISKA Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (2010-2013)